Rabu, 19 Agustus 2020

Apasih Dampaknya COVID-19 dalam sudut pandang Teknologi, Sosial, Ekonomi, dan Kesehatan dan apa benefitnya?

 

Apasih Dampaknya COVID-19 dalam sudut pandang Teknologi, Sosial, Ekonomi, dan Kesehatan dan apa benefitnya?

 

Latar Belakang

Asal mula kasus ini berasal dari Wuhan Cina dan yang diduga virus tersebut berasal dari pasar di Wuhan yang menjual daging hewan seperti trenggiling dan kelelawar,  yang tidak lazim bagi kita tetapi lazim bagi penduduk Cina, dan keterkaitannya dengan tradisi turun temurun dari warga Cina tersebut. Diduga dari kelelawar munculnya virus corona yang telah berevolusi hingga dapat menjangkit manusia. Tetapi sempat beredar kabar bahwa COVID-19 ini berasal dari tangan manusia atau buatan manusia yang sengaja dijadikan senjata biologis, dan tudingan terhadap Cina serta Amerika pun banyak muncul karena kedua negara tersebut adalah negara adidaya. Ada juga `konspirasi lainnya yaitu COVID-19 ini digunakan untuk mengurangi jumlah populasi manusia oleh kelompok elit dunia. Terlepas dari teori konspirasi itu semua, para peneliti mengungkapkan bahwa virus corona ini tidak ada bukti bahwa itu buatan manusia. Seperti pernyataan dari Kristian Andersen PhD, Associate Professor Imunologi dan Mikrobiologi di Scripps Research menyatakan bahwamereka telah membandingkan dan data sekuens genom yang tersedia untuk strain coronavirus yang telah diketahui. Serta para peneliti dengan dipimpin oleh Shan-Lu Liu di Ohio State University mengatakan bahwa dengan penelitian yang mereka lakukan tidak ada bukti yang membuktikan bahwa virus ini adalah buatan manusia serta tidak ada bukti kredibel virus ini dibuat secara genetic, mereka juga telah mengurutkan genom coronavirus, terbukti bahwa virus corona merupakan anggota atau keluarga besar (famili) dari virus yang dapat menyebarkakan secara luas dan cepat, kesimpulan dari Serta para peneliti dengan dipimpin oleh Shan-Lu Liu di Ohio State University bahwa virus corona merupakan virus yang murni dari alam atau yang berasal dari kelelawar dan bukan ciptaan maupun buatan yang disengaja dibuat oleh manusia.

Virus corona menjadi salah satu kasus dinyatakan WHO sebagai pandemik global yaitu dengan adanya Coronavirus  atau yang kerap disebut COVID-19. COVID-19 merupakan virus yang penyebarannya sangat cepat yang dapat membuat banyak kasus di dunia yang dampaknya  membawa kedaruratan kesehatan bagi penduduk bumi. Hampir diseluruh negara ada penduduknya yang positif COVID-19. Dampaknya bisa dirasakan oleh banyak bidang dalam kehidupan seperti diberlakukan physical distancing yang berdampak banyak hal seperti segalanya yang mengumpulkan banyk orang ditutup karena anjuran pemerintah untuk menekan penyebaran rantai COVID-19, seperti kafe, rumah makan, bisokop, rumah ibadah pun sekarang diberlakukan kebaktian online atau ibadah online, bahkan pada ramadhan ini beberapa wilayah yang terkena zona merah warga diharapkan taraweh dirumah untuk tetap menghindari penyebaran COVID-19.

Contoh lainnya yang dapat dilihat atau tertuang dalam trigatra maupun pancagatra.Trigatra meliputi kekayaan alam, demografi atau kependudukan dan geografi. Serta Pancagatra yang meliputi aspek dibidang social, budaya, ekonomi, pertahanan dan ekonomi. Terlepas dari dampak yang dirasakan pada trigatra serta pancagatra, dampak tersebut juga memengaruhi bidang pendidikan, yang sekarang diberlakukan sistem daring atau sekolah online maupun kuliah online yang banyak mengundang polemik, dan hambatan-hambatan dalam menjalankan pendidikan. Dari peristiwa seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makasar jurusan PGSD meninggal ketika sedang mencari jaringan atau koneksi internet yang bagus demi menjalankan kuliah online yag tengah banyak diberitakan di media. Selain itu banyak mahasiswa mengalami gejala stress karena kuliah online, karena tugas semakin membludak,masalah kouta internet, kurang paham dengan materi yang diberikan.

Gejala dari covid-19 ini yaitu sang pengida merasakan demam yang suhunya mencapai atau bisa lebih dari 38 derajat Celsius, batuk kering, dan sesak nafas. Virus keluar dengan melalui bersin, batuk tanpa menutup mulut yang bisa menyebarkan virus tersebut ke objek terdekat, secara langsung ini berkaitan dengan tata etika ketika batuk kita harus menutupnya dengan tangan/lengan/tissue. Dengan etika yang berlaku di masyarakat yang selalu diterapkan secara tidak langsung bisa menghambat penyebaran virus ini. Dan untuk upaya pencegahan tertularnya virus ini kita harus menggunakan masker, sekarang pemerintah sangat menekankan maupun menganjurkan  penggunaan masker demi menekan rantai mata virus bahkan ada sanksi yang berlaku bila ada seseorang yang berada di luar tidak menggunakan masker. Penggunaan masker bukan untuk melindungi kita tetapi juga ikut melindung orang disekitar kita atau orang dekat kita seperti keluarga, jika  tidak menggunakan masker dan terinfeksi virus ini maka akan merugikan diri sendiri dan merugikan orang yang ada disekitar kita. Upaya lainnya adalah physical distancing atau jaga jarak antar individu demi menghindari penyebaran virus atau memperlambat penyebaran covid-19 ini.

Table 1 (Data Terbaru Kasus COVID-19 di Indonesia)

KETERANGAN

JUMLAH

Positif

143.043

Dirawat

40.460

Meninggal

6.277

Sembuh

96.306

 

 

 

 

`                                   sumber: https://www.kompas.com/

1.      Teknologi

Kondisi saat ini, ditengah pandemic COVID-19 yang terus merajalelaa di dunia ini menyebabkan, orang yang kurang peka terhadap teknologi khususnya sangat mengalami kebingungan atau gaptek, jadi perlu waktu untuk menyesuaikan dengan teknologi yang semakin berkembang pesat saat ini, seperti contohnya orang tua yang sebelumnya tidak tahu menahu soal aplikasi untuk pembelajaran di era digitalisasi ini menjadi melek karena dituntut dengan sendirinya untuk paham terhadap hal tersebut, karena bila orang tua yang memiliki anak pasti di masa pandemic ini menggunakan sistem online yang menggunakan aplikasi android maupun ios untuk mengakses mata pelajaran serta untuk mengumpulkan tugas mata pelajaran anaknya. Bukan hanya orang tua tetapi guru maupun dosen yang belum menerapkan sistem daring sebagai media pembelajaran maupun pengumpulan tugas, dituntut sedemkian juga untuk segera menyesuaikan dengan teknologi di era digitalisasi yang semuanya semakin sederhana dengan ponsel yang ada melalui aplikasi maupun web untuk mengakses ilmu pengetahuan yang ada di dunia. Karena perkembangan teknologi yang pesat dan sangat cepat masih banyak orang yang belum bisa untuk beradaptasi atau untuk mempelajari suatu hal yang baru khususnya teknologi yang anggapannya dimasyarakat adalah rumit, tetapi sebenarnya teknologi membuat hal yang rumit menjadi sederhana, karena fungsi teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi adalah yang digunakan untuk mengolah, mendapatkan, memproses, menyusun, menyimpan, dan memanipulasis data untuk kepentingan- keentingan tertentu. Teknologi tentunya mempunyai dampak postif dan negatif dalam pelaksanaanya. Adapun dampak negatif dalam teknologi berbentuk ponsel atau cellphone yang terjadi pada masa pandemic COVID-19 ini yaitu dampak dari penggunaan layanan video seperti Zoom/Google Meet/Microsoft Teams menurut laporan terbaru dari Check Point Research dilansir di The Verge Selasa (12/5/2020). Karena banyaknya yang menggunakan layanan aplikasi tersebut banyak domain dari hacker yang dibuat, dan domain tersebut bisa digunakan sebagai tautan resmi, yang dapat menjebak prang agar mengunduh Malware atau meretas akses informasi pribadi. Pada tiga minggu terakhir, alikasi zoom 2,449 domain terkait zoom terdaftar, serta Check Point Research menetapkan bahwa 32 domain tersebut berbahaya dan 320 lainnya mencurigakan. Dari sinilah dampak negative dari teknologi yang bisa rasakan oleh korban, sehingga perusahaan aplikasi tersebut harus memberikan perlindungan penuh terhadap pengguna atau pelanggannya. Dampak negatif yang lain yaitu dengan cepatnya penyebaran informasi seperti hoax seputar COVID-19 khususnya karena salah satu yang disorot secara massif serta terfokus.Yang dilansir dari www.kominfo.go.id "Pagi ini ada 474 isu hoaks secara kumulatif, dan secara keseluruhan ada di sebaran 1.000 lebih isu hoaks di platform digital," kata Menkominfo Johnny G Plate saat konfrensi pers virtual di Gedung BNPB, Rabu (8/4). Serta "Kami sampaikan secara keseluruhan ada 1.125 hoaks, kami telah menyampaikannya ke masing-masing platform digital global. Seperti 785 hoaks di facebook, instagram 10 , twitter 324, youtube 6," kata Johnny G Plate.

 Adapun juga dampak positif dari teknologi di masa pandemic ini adalah, kita teta bisa melakukan interaksi social secara online , karena kenyataannya COVID-19 menyebabkan menurunnya atau memudarkan interaksi social yang secara alami sangat dibutuhkan manusia, karena kita ini makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa keberadaan manusia lain, kita bisa melakukan interaksi melalui Instagram, Whatsapp, Line, serta seminar maupun kelas online bisa diakses atau dapat tatap muka melalui Zoom, Google meet, Hangout terlepas dari dampak negatifnya, dan kita sebagai siswa atau mahasiswa kita mengumpulkan tugas dapat secara online dengan aplikasi seperti Edmodo, Eoogle classroom, dsb. Dampak positif teknologi juga bisa mendukung anjuran pemerintah untuk “stay at home” atau dirumah saja, karena demi memutus mata rantai COVID-19, maupun menekan angka positif COVID-19 di Indonesia dengan melakukan belanja online untuk menggantikan belanja di mall untuk sementara waktu, karena untuk sementara waktu akan ditutup, ini menyebabkan juga dampaknya merembet atau menyentuh bidang ekonomi para pengusaha offline . Teknologi yang berdampak positif bagi kelangsungan pendidikan di pandemi, seperti halnya siswa maupun mahasiswa banyak yang banyak membeli kouta untuk tetap bisa berkuliah online dan itu dilakukan dengna frekuensi yang sering dampaknya dapat menguras kantong atau uangnya dengan ketidakadanya pemasukan, jika bagaimana ada orang tua yang telah di PHK dari perusahaan, pasti sangat sulit sekali pada masa ini. Tetapi banyak pihak yang berkontribusi demi kelancaran pendidikan ditengah pandemi ini, seperti bantuan kouta pada masing-masing universitas, bahkan tutur Mendkbud Nadiem bahwa guru dan siswa dapat membeli kouta internet mengginakan dana BOS, kartu perdana indosat juga turut berkontribusi untuk melancarkan kegiatan sekolah online maupun kuliah online, dengan memberikan banyak kouta bagi pelanggannya, karena saat proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) atau proses.

2.      Kesehatan

Kesehatan adalah suatu hal yang terpenting bagi manusia yang merupakan kegiatan sejahtera dari badan, jiwa dan social. Tentu kesehatan menjadi yang terutama bagi manusia, karena dengan sehat manusia bisa terus beraktivitas dalam menunjang kehidupannya, jika saja terjadi gangguan kesehatan pada manusia maka bisa dipastikan sangat mengganggu kegiatan maupun aktivitas manusia, seperti bekerja, belajar, atau melakukan kegiatan lainnya. Karena ketika terjadi gangguan kesehatan pada manusia maka manusia memerlukan yang namanya pengobatan dan pemulihan. Itu sangat memakan waktu untuk kembali hidup normal dalam menjalankan aktivitas normalnya. Dengan demikian, peka terhadap kesehatan sangat diharuskan oleh semua orang, dengan menjaga pola makan, serta kegiatan olahraga untuk menjaga kesehatan tubuh. Salah satu ciri dari kesehatan yaitu kebersihan, dengan itu kita bisa menjaga tubuh kita untuk tetap sehat. Tetapi masih banyak manusia yang belum menjaga kebersihan lingkungannya yang sejatinmya tahu bahwa ketidakbersihan atau kekumuhan bisa membuat penyakit bagi lingkungan sekitar.

           Dengan pandemic COVID-19 ini kita belajar bahwa pentingnya kebersihan untuk penunjang kesehatan manusia. Yang sebelumnya belum peka terhadap kebersihan maupun acuh-tak acuh terhadap kebersihan, dengan adanya COVID-19 masyarakat bisa belajar untuk selalu menjaga diri serta lingkungannya bersih demi terhindarnya dari penyakit. Bahkan menjadi sangat protektif terhadap dirinya, seperti penggunaan masker dan sering mencuci tangan dengan sabun, maupun sedia hand sanitizer untuk membersihkan kuman, baketeri, bahkan virus yang nmenempel ada tangan. Dengan adanya pandemic ini menjaga tangan agar tetap bersih dapat menjadi culture pada kehidupan masyarakat. Serta senantiasa menggunakan masker untuk menghindari virus, baketri, maupun bisa mencegah terkontaminasinya paru-paru terhadap debu dan lain-lain yang ada diudara yang berdampak negatif bagi tubuh. Dengan adanya pandemic ini, pemerintah menganjurkan untuk seluruh toko, rumah makan, dll, untuk menyediakan air dan sabun untuk cuci tangan ataupun menyediakan hand sanitizer , setiap orang yang pergi untuk melakukan sesuatu dituntut untuk cuci tangan atau membersihkan tangan, ini akan membiasakan orang untuk selalu menjaga tangannya tetap dalam keaadaan bersih.

           Selain itu kesehatan kita bisa menjaga kesehatan dengan cara mengonsumsi makanan maupun minuman yang begizi dan berbenefit baik bagi tubuh. Atau yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh seperti vitamin, mineral, dll.

 

                                     

3.      Sosial

Manusia mempunyai status yaitu makhluk social yang pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa orang lain disekitarnya, mengapa demikian? Karena manusia selalu melakukan kontak individu antar individu, individu antar kelompok dan saling melakukan interaksi social antara kedua subjeknya. Setiap sendi kehidupan masyarakat selalu mengalami suatu perubahan. Salah satu perubahan yang sering terjadi di kehidupan masyarakat ialah perubahan social, Perubahan social merupakan pendekatan sosiologi, yang mempunyai makna yaitu suatu perubahan yang mempengaruhi suatu sistem social, perilaku, nilai-nilai sikap dalam suatu kelompok masyarakat, oleh karena itu, perubahan-perubahan itu terjadi kemudian yang turut serta memengaruhi segi struktur dengan masyarakat lainnya. Salah satu kasus dinyatakan WHO sebagai pandemic global yaitu dengan adanya Coronavirus  atau yang kerap disebut Covid-19. Covid-19 merupakan virus yang penyebarannya sangat cepat yang dapat membuat banyak kasus di dunia. Dengan kasus ini yang membawa kedaruratan kesehatan penduduk bumi, kita dapat melihat bahwa benang merah antara kasus Covid-19 dan dampaknya terutama dibidang social karena penyebarannya yang cepat melalui kontak manusia antar manusia. Dengan social media banyak orang yang sangat bersimpati terhadap korban covid-19 dengan berdonasi melalui social media seperti youtube, instagram dll. Bukan hanya peduli dengan korban dari covid-19, namun penggalangan dana itu ada yang melakukan untuk membagikan masker dan hand sanitizer kepada publik untuk mengaplikasikan upaya pencegahan covid-19 yang semaki hari korbannya positifnya semkin meningkat. Penggalangan dana atau donasi juga dilakukan untuk memenuhi APD (Alat Pelindung Diri) yang cadangannya kurang memadai untuk tim medis, yang diperlukan seperti masker n95 atau ekuivalen, baju hizmut, pelindung mata, apron, penutup kepala, sarung tangan sekali pakai. Itulah kekuataan social yang berbasis teknologi atau media social. Jadi, dari andemi COVID-19 ini kita bisa sadar bahwa kita makhluk social yang membutuhkan orang lain, contohnya artis yang megadakan konser di social media untuk penggalangan dana, mereka juga membutuhkan patner atau artis lainnya untuk melaksanakan programnya, dan tentunya audience sasarannya, jadi betapa saling ketergantungannya kita sebagai manusia.

 

4.      Ekonomi

Pandemi global yakni wabah covid-19 yang sangat dapat mengubah suatu tatanan ekonomi yang bukan hanya Cina sebagai asal dari virus tersebut tetapi hampir seluruh negara merasakan dampak ekonomi dari wabah covid-19 ini. Banyak usaha yang sepi bahkan tidak menutup kemungkinan gulung tikar karena tidak adanya pemasukan, yang ada hanya pengeluaran, jika dalam jangka waktu yang lama dalam dunia perekonomian dunia dapat mengakibatkan semakin lemahnya ekonomi baik mikroekonomi maupun makroekonomi suatu negara. Dan jalur distribusi logistic menjadi sangat terganggu, bila dalam jangka waktu yang lama ekonomi Indonesia bisa sangat buruk ditambah lagi masalah ekonomi yang sebelum adanya wabah covid-19 ditambah dengan kasus pandemic ini. Serta dampak kerugiaan seluruh negara akibat wabah ini bisa sangat merugikan dan menambah beban, pemulihan ekonomi tidak sebentar atau mudah hanya dengan memutartelapak tangan, karena menstabilkan ekonomi khususnya di Indonesia yang jumlah penduduknya banyak danwilayahnya luat, pemerataan ekonomi un menjadi terganggu. Bila kasus pandemic covid-19 ini dibandingkan dengan kasus wabah SARS 2002 – 2003 yang juga berasal dari Cina, dampak negatiof dalam perekonomian akan jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kasus SARS. Karena Covid-19 memang benar massif penyebarannya bahkan hampuir seluruh negara di dunia.

Berdasarkan kategori barang konsumsi, barang modal, serta bahan baku sepanjang bulan Januari hingga Desember 2019, sangat jelas ketergantungan Indonesia terhadap Cina. Dari ketiga kategori tersebut barang-barang yang diimpor dari Cina sebanyak 37% barang konsumsi, 25% bahan baku penolong, dan 44% barang modal jelas diimpor dari China.

 

Dalam hal investasi langsung, selama 5 tahun terakhir (2016—2019), Indonesia menerima investasi China sebesar US$13,2 miliar serta menjadi peringkat ketiga terbesar bagi Indonesia.  Dampak dari kelangkaan bahan baku yang masih ketergantungan dengan Cina, maka kasus ini akan membawa dampak atau gangguan bagi industry manufaktur. Serta berdampak kenaikan inflasi yang tinggi, inflasi dapat terjadi karena kenaikan biaya produksi (Cost Push Inflation) , serta inflasi  karena bertambahnya atau naiknya Uang yang beredar (Quantity Theori Inflation).

Di sisi lain, dengan inflasi yang tinggi, tentu rumah tangga akan menurunkan bkonsumsinya. Padahal kontribusi terbesar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sejauh ini adalah konsumsi rumah tangga. Disamping itu, inflasi yang tinggi bisa mengakibatkan rumah tangga akan menurunkan konsumsinya. Sementara itu kontribusi yang terbesar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sejauh ini adalah konsumsi rumah tangga. Melihat dampak negatif dari pandemi ini dapat menyebabkan kemerosotan ekonomi, dan kerugiannya sangat massif, terutama di bidang ekonomi, sebagai idang yang sangat penting di suatu negara.

 

 

 

 

Sumber:

https://www.kominfo.go.id/content/detail/25831/kominfo-temukan-1125-hoaks-di-medsos-terkait-corona/0/sorotan_media 

https://m.liputan6.com/bola/read/4221324/asal-usul-virus-corona-covid-19-apakah-dari-alam-atau-laboratorium

https://m.wartaekonomi.co.id/berita285250/waspada-hacker-gunakan-link-zoom-google-meet-dan-microsoft-teams-palsu

Sabtu, 25 April 2020

The Vowel and Consonants Phonetic of Australian English

Morphology Bahasa Inggris 1

Syntax Bahasa Inggris

Morphology Bahasa Inggris 2

Singapore English (Singlish)


SINGLISH

Singlish is an English-based creole language spoken in Singapore. The term Singlish is a blend of Singaporean slang and English and was first recorded in 1973. As English is one of Singapore's official languages, Singlish is regarded as having low prestige.The Singaporean government and some Singaporeans alike heavily discourage the use of Singlish in favour of Standard English.



Syntactical characteristics of Singlish are.

1 Grammar

  • Verbal Inflextion
    In Singlish, the verbs usually appear in an uninflected form where the singular present tense and past tense are not morphologically marked. This is due to influences from Chinese and Malay which do not have morphologically marked tense and agreement features (Platt and Weber, 1980; Alsagoff, 1998; 2001).
    For instance:

        1. Singlish                                                               He drink milk.
           Chinese                                                              Ta he niunai                      
           Standard English                                             He drinks milk.




        1. Singlish                                                               She go to market
          Malay                                                                  Dia pergi ke pasar
                                                                                         She go to market
          Standard English                                             She is going to the market.

          Put to the fact that this is the most common error committed by both the Chinese and Malay people shows that their learning of English is heavily influenced by their respective mother tongues.


  • PLURAL MARKING
    Another significant syntactic influence of Chinese and Malay is plural marking. Researchers note that most nouns in Singlish can be used both as count and non-count in Chinese and Malay (Alsagoff, 1998; Ho and Alsagoff, 1998; Ziegeler, 2003). Alsagoff gives the following examples (1998, p. 231):

  1. Singlish                                               She bought four car.
    Chinese                                              Ta mai le   si liang  che
                                                                 He/she  buy  four  CLASSIFIER   cat

    Malay                                                Dia mempunyai empat ekor kucing                                                                                                       He/she   own   four CLASSIFIER cat
    Standard English                               She bought four cars
    In the case of Chinese, Tay explains these difficulties "may be attributed to the fact that in Chinese, nouns do not change their form according to whether they are singular or plural, verbs do not change their form according to tens

  • PASSIVES
    Chinese and Malay people have difficulty in the use of passives. In English, a passive sentence is constructed by putting the patient into the subject position and moving the agent to a post-verbal position preceded by the preposition "by". The structure of a Malay passive is quite similar to that in English, with "oleh" preceding the agent. Yeo and Deterding (2003, p. 82) give the following example:

  1. Malay                                                  Kereta itu akan dibeli oleh Rangga dua bulan lagi.
                                                                   That will bought by Rangga  next month.
                                                                   The car will be bought by Rangga next month.

                        However, this is not the case in Mandarin where passive sentences are rarely used.

  1. Chinese                                              Xia ge yue Che-zi hui bei Rangga xian-sheng mai.
                                                                 Next month car will by Rangga Mr buy.
                                                                The car will be bought by Mr Rangga next month.


  • ARTICLES
    in Malay and Chinese to the English definite and indefinite articles
    àSinglish (Omission)                           Java language is my dominant language.

        Standard English                                The Java language is my dominant language.

    àSinglish (Addition)                            I used to write in casual language until I underwent a formal training.

      Standard English                                 I used to write in casual language language until I underwent formal training.



  • OBJECT-PREPOSING
    In Singapore tend to prepose the object so that the sentence has an Object-Subject-Verb word order. This is influenced by Chinese which is a topic-prominent language in which the topic determines a sentence structure (Schachter and Rutherford, 1979; Alsagoff, 1998; Deterding, 2000; Li and Thompson, 1981; Shi, 2000; Tan, 1999). Tan (2003) and Poedjosoedarmo (2000) also note that Malay is a topic-prominent language and this influences the English used in Singapore. Below is an example to show the influence of Chinese on Singlish:



    Singlish                        Certain medicine we don't stock in our dispensary.
    Chinese                       You xie yao wo men bu   shou zai wo men de yau fang li.              Certain     medicine  we                don't stock in  our           dispensary
    Standard English      We don't stock certain medicine in our dispensary.

  • ADVERBS
    This disparity is due to the different sentence structures of Chinese and Malay as compared to that of English. For Chinese but not Malay, the adverb must always occur before the verb (Li and Thompson 1981, p. 22). Both English and Malay allow adverbials of time and place to occur in initial or final position but Chinese mostly requires them to occur before the verb (Li and Thompson, 1981, 22). Yeo and Deterding note that Malay students tend to use more post-verbal use of adverbials of place than their Chinese classmates (2003, p. 80).
    àFor Instance:
    Singlish                                         She this noon arrived.
    Standard English                       She arrived this noon.
    Chinese                                        Ta jin-tian zhōng wǔ dao-le.  
    He today noon arrive
    Malay                                            Dia tiba siang ini
    He  arrive noon this

  • NOUNS
    Nouns are optionally marked for plurality. Articles are also optional.
    For instance:

  1. He can play violin.
  2. I like to read novel.


  • TO BE
    In most varieties of English, is treated somewhat differently in Singlish:

  1. When occurring . with an adjective or adjective phrase, the verb "to be" tends to be omitted E.g. I damn mischieveos.
  2. Sometimes, an adverb such as "very" occurs, and this is reminiscent of Chinese usage of the word "" (hěn) or "" (hǎo). E.g Dis car very nice
  3. It is also common for the verb "to be" to be omitted before the present participle of the verb. E.g. How come you so late still playing music, ah?
  4. Slightly less common is the dropping out of "to be" when used as an equative between two nouns, or as a locative. E.g. Dis boy the class monitor. (= a subset of the disciplinary system; a monitor is empowered to enforce discipline by being an informant in the absence of the teacher or superior authority figure but his/her authority is restricted to the class; this is unlike a prefect whose authority is house-wide or even school-wide)


  • VERBS OF SAYING
    That verbs of saying in Singlish have the following serial verb structure, which is also found in Chinese (2000, p. 193): Verb + (Noun Phrase) + say. For instance:
    Singlish                        we argue say, 'I came in before eleven.'
    Standard English      we argued that we came in well before eleven.

    That this pattern is influenced by Chinese is pointed out by Li and Thompson (1981), Xu and Langendoen (1985). Take the following examples:
    Chinese                                                       Ta gaosu wo  shuo ni tout eng.

He/she tell me say you headache

Standard English                      He/she told me that you had a headache.



  • TOPIC PROMINENCE
    This means that Singlish sentences often begin with a topic (or a known reference of the conversation), followed by a comment (or new information). Compared to other varieties of English, the semantic relationship between topic and comment is not important; moreover, nouns, verbs, adverbs, and even entire subject-verb-object phrases can all serve as the topic:

  1. Dis city weather very cool one                 
     The weather is very cool in this city.
  2. Tomorrow don't need bring raincoat.
     You don't need to bring a raincoat tomorrow.
  3. He play volleyball also very good one leh.
     He's very good at playing volleyball too.

    This results in constructions that appear to be missing a subject to a speaker of most other varieties of English, and so called PRO-drop utterances may be regarded as a diagnostic feature of Singapore Colloquial English (or 'Singlish').[71] For example:

  1. No good lah. – This isn't good.
  2. Cannot anyhow go like dat one leh. – You/it can't just go like that.
  3. I like football, dat's why I every weekend go play. – I play football every weekend because I like it.


  • PAST TENSE
    Past tense marking is optional in Singlish. Marking of the past tense occurs most often in irregular verbs, as well as verbs where the past tense suffix is pronounced -ed. The past tense is more likely to be marked if the verb describes an isolated event (it is a punctual verb), and it tends to be unmarked if the verb in question represents an action that goes on for an extended period:

  1. When I young ah, I go school every day except Sunday .
  2. When she was in high school, she always go school from Monday until Saturday


  • Change of state
    Instead of the past tense, a change of state can be expressed by adding already or liao (/liâu/). For instance:

  1. I draw liao. (I have already drawn it away.)
  2. I sleep liao. (I ate or I have slept.)

  • Negation
    in general English, with not added after "to be", "to have", or modals, and don't before all other verbs. Contractions (can't, shouldn't) are used alongside their uncontracted forms.

  1. Another effect of this is that in the verb "can", its positive and negative forms are distinguished only by the vowel:
    àKeep it up! you can /kɛn/ do lah.
    àThis one can't /kan/ do lah.
  2. Also, never is used as a negative past tense marker, and does not have to carry the English meaning. In this construction, the negated verb is never put into the past-tense form:
    àHow come today you never (=didn't) hand in homework?
    àHow come Ann never (=didn't) pay just now?


  • Interrogative
    In addition to the usualway of forming yes-no questions, Singlish uses two more constructions.

  1. In a construction similar (but not identical) to Chinese A-not-A, or not is appended to the end of sentences to form yes/no questions. Or not cannot be used with sentences already in the negative
    àCan or not ? (Is this possible / permissible?)
    àYou want this bag or not? (Do you want this bag?)
  2. The phrase is it, appended to the end of sentences, forms yes-no questions.
    à Alamak, you guys never read hot news about goverment is it? (No wonder you aren't up to date!)
    à You always play the game and never study, is it? (No wonder you failed!)



  • WH INTERROGATIVE CONSTRUCTION
    In Singlish, the interrogative pronoun which is the wh- pronoun can remain in situ due to influence from Chinese (Alsagoff, 1998; Gupta, 1994; Tay, 1978). For instance:
    Singlish                                         He give what?
    Chinese                                        Ta  gei shen-me?
    He/she  take what?
    Standard English                       What did she give?



  • CONNECTIVES
    A common error is the use of "because" and "therefore" in the same sentence. This is due to the fact that Chinese tends to mark two clauses in a sentence with a connector: yin-wei …suo-yi ('because … therefore') (Deterding, p. 206). For instance:
    àSinglish                                    Because I woke up late, therefore I was late.
    àStandard English                  I was late because I woke up late. OR I woke up late therefore I was late.

    Chinese                                        Yinwei  wo  qi wanle, suoyi wo chidaole
    Because I woke up late, therefore I late



  • REDUPLICATION
    Khairiah (1985) observes that a number of reduplicated words in Singlish are derived from Chinese and Malay, such as:
    àFrom Malay
    "agak-agak" (estimate)
    "jalan-jalan" (walk)
    àFrom Chinese
    "kapo kapo" (busybody),
    "pang pang" (fat)
    "bei bei" (recite/memorise)
    àFrom English
    “ting ting ting” (thought, thought and thought)
    “walk walk see see” (shopping/sightseeing)
    “boy boy” (son)
    “fren-fren” (close friends)
    “buddy-buddy”
    “big-big” (larger item)
    “long-long” (never happen)

  • FUNCTIONAL PARTICLES
    Singaporeans are heavy users of pragmatic particles. These are words borrowed from mostly Southern Chinese dialects, notably Hokkien. They serve different, practical purposes. The most common ones are “ah” (to indicate uncertainty), “lah” (to make an assertion or statement), “hah” or “mah” (to ask questions), Singlish speakers may end their sentences with “what” to contradict their conversation partners.

  1. Her dress too big (being assertive)
  2. Take this away, hah? (asking a question)


  • VERB GROUPS WITH NO SUBJECTS
    Singaporeans do not express the subjects of sentences when others can infer them. This habit stems, in large part, from the use of shortened Mandarin sentences.

  1. “(You) Go to mall,” from the Chinese sentence, “qu shangchang”
  2.  “(I)Still got headache”, from the Chinese phrase, “haidhi hen kun”


  • Conditional Clauses without a Subordinating Conjunction
    You will find that a Singlish speaker often eliminates conjunctions such as “if” or “when” in sentences. These would be necessary when speaking Standard English. The missing words are in parenthesis. Some instances of these are:

  1. You sit there, then where I sit? (if)
  2. Shout again, I go (if)


  • MISSING VERBS
    Singlish users remove the verb “to be” from sentences. This language habit is another derived from contracted Chinese phrases. The missing verbs are in parenthesis. For instance:

  1. “Today, I going running (am)”, translated from the Chinese sentence “jintian wo yao paobu”
  2. “Your headset there (is)”, translated from the Chinese sentence “Ni de erji zai nali“


  • Singlish phrase

  1. Wah Lau / Walao
    Wah lau ([wɑːlɔː]) is derived from a Hokkien or Teochew phrase that means "my     father". It is used as an interjection or exclamation at the beginning of a sentence, and it usually has a negative connotation. E.g. “Wahl au! I want to go to Anco next day, please give me dough”
  2. Kena
    It is derived from a Malay word that means "to encounter or to come into physical contact",[91] and is only used with objects that have a negative effect or connotation. Verbs after kena may appear in the infinitive form (i.e. without tense) or as a past participle.
    àkena hantam: be hit by something, such as a ball, or to be beaten up (hantam is another Malay word)
    àkena sabo: become a victim of sabotage or a practical joke
    àkena fucked: get set up, or to receive a punishment
    àkena whack: be beaten badly, in games or in physical fights
    àkena ban/silence: one of the newer uses of kena, it means to be banned/silenced    in a computer game. The "silence" is only used when silenced from talking in chat by GMs (Game Masters), not having the "silence" effect that stops you from doing spells.
  3. Tio
    ([tiːoʊ]) can be used interchangeably with kena in many scenarios. While kena is often used in negative situations, tio can be used in both positive and negative situations.
    àHe tio cancer. (He was diagnosed with cancer.)
    àHe tio jackpot. (He struck the jackpot.)
    àHe tio lottery. (He struck lottery.)
  4. One
    The word one is used to emphasise the predicate of the sentence by implying that it is unique and characteristic. One used in this way does not correspond to any use of the word "one" in British, American English, or Australian English. It can be compared to the British usage of 'eh'. It might also be analysed as a relative pronoun, though it occurs at the end of the relative clause instead of the beginning (as in Standard English).
    à Is like that one. – It is how it is.
    à I do everything by habit one. – I always do everything by habit.
    àHe never go school one. – He doesn't go to school (unlike other people).
  5. Then
    The word then is often pronounced or written as den /dɛn/. When used, it represents different meanings in different contexts. In this section, the word is referred to as den.
    àI'm bushed, den I'm going to sleep.
  6. Lah
    sometimes spelled as la and rarely spelled as larh, luh or lurh, is used at the end of a sentence
    à Dun worry, he can one lah. – Don't worry, he will be capable of doing it
  7. Wat
    The particle wat (/wàt/), also spelled what, is used to remind or contradict the listener
    àwat are you doing?
  8. Mah
    is used to assert that something is obvious and final and is usually used only with statements that are already patently true
    àThis one also can work one mah!
  9. Leh
    is used to soften a command, request, claim, or complaint that may be brusque otherwise:
    àGimme leh. – Please, just give it to me.
  10. Meh
    is used to form questions expressing surprise or scepticism
    à Really meh? – Is that really so?
  11. Oi
    is commonly used in Singlish, as in other English varieties, to draw attention or to express surprise or indignation. Some examples of the usage of Oi include:
    àOi, you forgot to give me my pencil!
    àOi! Hear me can!
  12. Lor
    is a casual, sometimes jocular way to assert upon the listener either direct observations or obvious inferences
    àYa lor. – ! Used when agreeing with someone
  13. Hor
    Is used to ask for the listener's attention and consent/support/agreement. It is usually pronounced with a low tone.
    àOh yah hor! – Oh, yes! (realising something)
    àLike that can hor? – So can it be done that way?
  14. Ar
    Also spelled arh or ah, is inserted between topic and comment.It often, but not always, gives a negative tone:
    àThis boy ah, always so rude one! – This boy is so rude!
  15. Siah
    Also spelled sia or siah, is used to express envy or emphasis.
    à "Kau ade problem ke ape, sial?" – Do you have a problem or what?
  16. Siao
    Siao is a common word in Singlish. Literally, it means crazy.
    àYou siao ah? – * Are you crazy? (With sarcasm)
    àSiao Ang moh ! - * Crazy (western/caucasian) foreigner

                2 Vocabulary

Singlish formally takes after British English (in terms of spelling and abbreviations), although naming conventions are in a mix of American and British ones (with American ones on the rise). Singlish also uses many words borrowed from Hokkien, and from Malay

                3 Pronounciation

Singlish pronunciation, while built on a base of British English, is heavily influenced by Native Malay, Hokkien and Cantonese.  There are variations within Singlish, both geographically and ethnically. Chinese, Native Malays, Indians, Eurasians, and other ethnic groups in Singapore all have distinct accents, and the accentedness depends on factors such as formality of the context and language dominance of the speaker.  All of these communities were formed by the earliest immigrants to Singapore and thus have been British subjects for three or more generations. Thus, they have received no other "native education" than solely British colonial education. Especially for those born before 1965, all the education received has been direct English rather than British influences. Many of the East Coast communities were descendants or in other ways, privileged to be granted British colonial education similar to those in Britain. As such the acrolectal standard of English does not diverge substantially from the acrolectal standard in Britain at this time, though (as in other colonial outposts) it always tended to be somewhat "out of date" compared with contemporary speech patterns in Britain.
Sumber:
Tan, C. (2005). English or Singlish? The syntactic influences of Chinese and Malay on the learning of English in Singapore. Journal of Language and Learning, 3(1), 156-179.

https://en.wikipedia.org/wiki/Singapore_English